Close

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Sejak 1957

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Sejak 1957
  • PublishedDesember 23, 2025

PKBI -Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia - INKLUSI

akirashibas.com-Pada tanggal 23 Desember 2025 ini, PKBI genap berusia 68 tahun sejak resmi dideklarasikan pada 23 Desember 1957.

Lahir dari keprihatinan sekelompok tokoh dan ahli kesehatan—termasuk

dr. R. Soeharto (dokter pribadi Presiden Soekarno)—terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi pada era 1950-an,

PKBI terus berkomitmen memperjuangkan hak kesehatan seksual dan reproduksi, pemberdayaan masyarakat,

serta kesejahteraan keluarga yang bertanggung jawab dan inklusif.Sejak menjadi anggota penuh International

Planned Parenthood Federation (IPPF) pada 1969, PKBI telah berkembang ke berbagai provinsi di Indonesia,

memberikan layanan, edukasi, advokasi, dan dukungan bagi jutaan keluarga.Terima kasih atas dedikasi PKBI

dalam membangun Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera. Dirgahayu PKBI!

Sejarah Pendirian PKBILahir dari keprihatinan mendalam terhadap tingginya angka kematian ibu (AKI)
 
dan bayi pada era 1950-an, PKBI digagas oleh sekelompok tokoh kesehatan nasional. Salah satu inisiator
 
utama adalah dr. R. Soeharto Sastrosoeyoso, dokter pribadi Presiden Soekarno. Ide ini semakin menguat
 
setelah diskusi dengan Mrs. Dorothy Brush (perwakilan International Planned Parenthood Federation/IPPF),
 
serta kunjungan Dr. Abraham Stone dan Margaret Sanger dari Margaret Sanger Research Institute,
 
New York.Pada masa itu, konsep keluarga berencana sering disalahpahami sebagai pembatasan kehamilan
 
yang bertentangan dengan semangat kemerdekaan. Namun, PKBI berhasil membangun pemahaman bahwa
 
KB adalah upaya membangun keluarga bertanggung jawab untuk kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan
 
anggota keluarga.Perkembangan dan Kontribusi

1969: PKBI menjadi anggota penuh IPPF dan turut menyaksikan berdirinya Lembaga Keluarga Berencana

Nasional (LKBN), yang kemudian berkembang menjadi BKKBN.

Saat ini, PKBI hadir di 26 provinsi dengan ratusan cabang dan klinik, menyediakan layanan kesehatan seksual

dan reproduksi (KSR), edukasi remaja, advokasi kebijakan, penanggulangan HIV/AIDS, serta dukungan bagi

kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan komunitas marginal.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *